pop
Selasa, 03 November 2020
Minggu, 01 November 2020
Perdagangan Internasional: Antar Negara & Antar Kawasan

Di zaman yang modern ini, kita sering mendengar ungkapan perdagangan internasional dikeluarkan dikala sedang membahas tentang ketahanan nasional, nasionalisme, dan posisi negara dalam percaturan ekonomi internasional. Namun apa sih sebetulnya perdagangan internasional? Jangan-jangan pandangan kita salah selama ini.
Sabtu, 31 Oktober 2020
Laba Dan Kerugian Perdagangan Internasional

Teman-sahabat niscaya sudah pernah mendengar istilah jual beli internasional, berkat dia, kita dapat mempunyai ponsel pintar yang dibuat dengan murah di China, dengan rancangan dari Amerika Serikat, dan bahan baku logam dari Afrika. Tapi, ternyata perdagangan internasional tidak senantiasa baik lho, kira-kira apa saja sih kerugian dan manfaatnya bagi kita dan negara?
Keuntungan Perdagangan Internasional
Meningkatkan Keuntungan Perusahaan
Perusahaan yang terlibat dalam jual beli internasional mampu meraih pertumbuhan yang jauh lebih tinggi daripada perusahaan yang hanya berkonsentrasi pada pasar domestik. Berkat jual beli internasional, perusahaan mampu mengekspor produknya ke pasar-pasar yang masih mempunyai persaingan rendah supaya bisa menguasai pasar dan mendapatkan laba lebih.
Menjadi Basis Pertumbuhan Ekonomi Negara
Ketika perusahaan-perusahaan berkembang besar, pendapatan negara juga akan bertambah, baik dari pendapatan pajak, maupun non pajak seperti lapangan pekerjaan, investasi, dan pembangunan infrastruktur.
Perdagangan internasional juga dapat menggenjot buatan barang sebuah negara untuk memajukan produk domestik bruto nya. Hal ini mungkin terjadi karena perdagangan internasional membuka pasar-pasar baru di negara lain. Oleh sebab itu, perdagangan internasional memiliki tugas besar dalam memajukan perekonomian suatu negara.
Mendiversifikasi Risiko Perusahaan
Perusahaan yang mempunyai basis bisnis di berbagai daerah mampu lebih mudah merespon musibah ataupun tragedi sosial. Walaupun pasar domestik sedang dalam kondisi jelek, pasar internasional dapat menopang perusahaan tersebut, ataupun sebaliknya.
Contoh dari manfaat diversifikasi ini yaitu ketika angin kencang Katrina mendarat di Florida dan kota-kota di Amerika Serikat bagian selatan, perusahaan internasional yang juga memiliki pabrik/markas di Eropa/Asia masih tetap dapat beroperasi, sedangkan perusahaan lokal yang hanya punya markas di Florida hancur dan tidak dapat beroperasi.
Meningkatkan Tingkat Kompetisi Pasar
Ketika terdapat banyak perusahaan yang saling bersaing pada sebuah niche produk tertentu, hanya kualitas, harga, dan nilai tambah yang dapat menjadi pembeda antar perusahaan. Jika sebuah perusahaan ingin produknya laris dalam persaingan perdagangan internasional, mesti ada peningkatan dari sisi kualitas dan nilai tambah, atau penurunan dari segi harga.
Oleh alasannya adalah itu perdagangan internasional dianggap mampu meningkatkan persaingan pasar dan kualitas barang yang ada serta menurunkan harga barang sebab memfasilitasi persaingan antar banyak sekali perusahaan.
Mempromosikan Spesialisasi
Agar dapat berhasil dalam kompetisi jual beli internasional, perusahaan mesti seefektif mungkin dalam memproduksi barang dan jasa, spesialisasi merupakan acuan dari efisiensi tersebut. Suatu negara akan lebih efisien dalam memproduksi barang tertentu, perdagangan internasional menunjukkan keleluasaan negara untuk mengimpor barang-barang yang tidak dapat diproduksi dengan efisien dan mengekspor barang yang dapat diproduksi dengan efisien.
Meningkatkan Ketersediaan Barang
Seperti yang dijelaskan diatas, sebuah negara tidak mungkin dapat memproduksi semua jenis barang secara efisien, oleh alasannya adalah itu niscaya ada segmen pasar yang mengalami undersupply barang. Perdangangan internasional dapat menolong mengisi kekurangan supply tersebut dengan barang dari luar negri.
Dapat Memanfaatkan Perbedaan Kurs
Perbedaan kurs mata uang mampu memajukan keuntungan perdagangan suatu perusahaan/negara. Kurs mata uang yang kuat akan menciptakan impor barang lebih hemat biaya, namun meminimalisir kesanggupan ekspor alasannya adalah barang yang dijual menjadi lebih mahal, dan sebaliknya dengan kurs mata uang yang lemah.
Contoh dari ini yakni China yang memiliki nilai mata duit renminbi relatif rendah jikalau daripada negara lainnya. Oleh sebab itu, kalau negara lain membeli barang dari China mereka akan mampu membeli lebih banyak barang, alasannya adalah mereka menukarkan mata duit mereka yang lebih besar lengan berkuasa dengan renminbi yang lebih lemah. Hal ini menjadi salah satu penyebab China mampu menjadi raksasa ekspor dunia.
Kerugian Perdagangan Internasional
Risiko Perubahan Iklim Politik
Suatu perusahaan yang mengerjakan usahanya di negara ajaib akan terpapar pada iklim politik dan peraturan yang mungkin jauh berbeda dengan pasar domestiknya. Jika terjadi pergantian kekuasaan atau gejolak politik pada negara ajaib tersebut, perusahaan dapat saja mengalami penurunan pemasaran atau bahkan kehilangan aset.
Contoh dari risiko politik yakni saat terjadi revolusi kemerdekaan di Indonesia pada tahun 1945, perusahaan-perusahaan Belanda diambil alih secara paksa dan dijadikan BUMN. Contoh lain ialah pada saat revolusi komunis di berbagai negara paska perang dunia 2, perusahaan perusahaan swasta diambil alih oleh negara tanpa adanya kompensasi untuk pemilik perusahaan.
Risiko Kurs Mata Uang
Jika sebuah perusahaan berdagang dengan negara meningkat yang belum mempunyai tata cara ekonomi mumpuni, perusahaan tersebut akan terpapar dengan risiko kurs mata uang. Risiko ini terjadi saat nilai mata uang negara tersebut berfluktuasi secara drastis, sehingga perusahaan tidak mampu memasukkan pergerakan nilai tukar mata duit kedalam penyusunan rencana bisnisnya.
Perbedaan Budaya Pembeli
Ketika perusahaan masuk ke dalam pasar yang berbeda, cita-cita konsumen akan sebuah produk juga cenderung akan berbeda. Jika perusahaan tidak mampu mengikuti keadaan dan mengganti produknya semoga sesuai untuk pasar tersebut, perusahaan tidak akan bisa menerima untung.
Contohnya yaitu gerai masakan cepat saji KFC yang tidak mampu menguasai pasar masakan cepat saji di Filipina sebab perbedaan selera ayam. Di Filipina, lebih banyak didominasi penduduknya lebih menggemari rasa asin-bagus dibandingkan rempah milik KFC, oleh sebab itu merk setempat Jolibee masih lebih diminati ketimbang masakan cepat saji luar.
Risiko Hutang dan Gagal Bayar
Ketika perusahaan bergerak di pasar abnormal, tidak ada jaminan yang bahwa kawan transaksinya dapat membayar tepat waktu atau bahkan bisa mengeluarkan uang. Perusahaan mampu kehilangan banyak uang saat mitra transaksinya tiba-tiba bubar atau dianggap gulung tikar oleh sistem aturan yang berlaku di negara tersebut.
Mengganggu Industri Lokal
Masuknya perusahaan asing kedalam pasar negara berkembang dapat mengusik atau bahkan menghancurkan industri setempat yang masih meningkat . Perusahaan aneh yang telah besar dapat mempergunakan aglomerasi dan economies of scale dalam memproduksi sebuah barang, sehingga harga produksinya jauh lebih murah dibanding perusahaan setempat. ketimpangan ini dapat menciptakan perusahaan lokal gagal bersaing di pasar, sehingga perusahaan setempat tersebut bangkrut.
Contoh dari fenomena ini banyak kita temui di Afrika, yang mana perusahaan pertanian Eropa dan Amerika Serikat mengekspor materi pangan mereka secara massal dengan harga yang murah. Oleh alasannya adalah itu, pasar bahan pangan di Afrika didominasi oleh brand luar sehingga petani lokal tidak mampu berkompetisi dan terpaksa melarat. Hal ini justru mampu menghalangi pertumbuhan ekonomi negara yang terdampak.
Risiko Pelanggaran Hak Cipta
Pembajakan dan imitasi produk menjadi duduk perkara besar bagi perusahaan yang bergerak di pasar internasional. Perusahaan tersebut mempunyai peluanguntuk dicuri produknya oleh kompetitor aneh. Contoh dari pencurian ini yaitu tuduhan-tuduhan kepada perusahaan China yang melaksanakan reverse engineering mobil, chip, dan barang elektronik yang lain. Selain produk hardware, banyak juga tuduhan pembajakan software yang membuat perusahaan pengembang merugi milyaran dollar. Salah satu software yang beresiko dibajak oleh hacker-hacker internasional yaitu games.
Risiko Dependensi Terhadap Negara Lain
Sebuah negara yang melaksanakan spesialisasi mampu menjadi dependen terhadap negara lain untuk sebuah produk yang tidak mampu diproduksi sendiri. Jika negara pemasokbarang tersebut melakukan embargo atau boikot, dan barang yang dijual adalah barang keperluan dasar masyarakat, maka negara pembeli mampu mengalami kekacauan alasannya kekurangan barang tersebut.
Risiko Eksploitasi Sumberdaya
Perdagangan internasional mampu menciptakan suatu negara melaksanakan eksploitasi sumber daya alam berlebihan untuk memenuhi permintaan pasar. Contoh paling terang dari ini yakni eksploitasi sumber daya mineral di Papua oleh PT. Freeport dan juga di Afrika oleh perusahaan pertambangan multinasional yang digambarkan dalam film blood diamond.
Permintaan yang tinggi terhadap suatu produk akan memaksa negara/perusahaan untuk mengeksploitasi sumberdaya alam demi memburu profit. Mereka kadang-kadang tidak menghiraukan terhadap imbas lingkungan ataupun sosial yang ditimbulkan dari eksploitasi tersebut. Oleh sebab itu, terkadang biaya eksternalitas dari eksploitasi sumber daya alam lebih tinggi dibandingkan keuntungan nominal yang didapat ketika menjual sumber daya alam tersebut.
Setelah menyaksikan dan menimbang kerugian dan keuntungan dari jual beli internasional, kira-kira kalian setuju dengan pendekatan yang mana nih, proteksionisme atau pasar bebas?
Referensi
Advantages and Disadvantages of International Trade
Sumber ty.com
Rabu, 28 Oktober 2020
Versi Penggunaan Lahan Von Thunen
Setelah mempelajari struktur kota dan teori struktur kota, kalian tentu saja ingin tau mengapa teladan yang terbentuk bisa mirip itu. Kenapa acara-acara komersial yang mahal senantiasa ada di sentra kota dan kegiatan yang tergolong lebih murah seperti pertanian, industri, atau perumahan terletak di pinggiran kota? Kali ini kita akan membicarakan salah satu teori yang mendasari struktur tersebut, yaitu Von Thunen.
Von Thunen adalah seorang tuan tanah dari daerah Mecklenburg, Jerman. Model Von Thunen mulanya dipakai untuk pemodelan pertanian pada sebuah daerah. Dalam membuat modelnya, Von Thunen memiliki beberapa perkiraan awal adalah:
- Kota terletak pada lokasi sentral dalam wilayah yang terisolasi
- Wilayah tersebut dikelilingi oleh hutan belantara
- Topografi lokasi datar, tanpa adanya gunung atau sungai
- Iklim dan mutu tanah yang sama dalam satu kawasan
- Petani/peternak memindahkan barang tani mereka sendiri ke kota tanpa adanya jalan
- Petani bersifat rasional untuk memaksimalkan keuntungan
Dalam menjumlah lokasi penggunaan lahan tani dan juga kesanggupan sewanya, Von Thunen menggunakan rumus:
R adalah sewa yang bisa dibayarkan
Y ialah buatan per unit lahan pertanian
p yakni harga pasar produk tersebut
c adalah biaya buatan produk tersebut
F yakni ongkos angkutanper unit produk per satuan jarak
m ialah jarak dari lokasi pertanian menuju pasar

Teorema Land Rent Von Thunen bergantung pada produktivitas dari produk tersebut berbanding dengan harga pasar. Semakin rendah ongkos buatan dibandingkan dengan harga pasar, maka petani akan dapat membayar sewa lebih banyak. Hal ini dilambangkan dengan garis produk yang terletak makin tinggi di sumbu Y, sedangkan bila harga selisih antara biaya buatan dengan harga pasar rendah, maka garis produk akan berada lebih rendah pada sumbu Y.
Jika biaya transportasi untuk suatu produk berkurang, maka grafik akan condong melandai kearah kanan. Hal ini menunjukkan bahwa profit atau rent yang sanggup dibayarkan oleh petani meluruh lebih lambat.
Produk yang mempunyai volume yang besar dan berat serta produk yang perishable lazimnya memiliki grafik yang terjal. Hal ini dikarenakan dengan makin jauhnya jarak, mereka kian kehilangan nilai, bisa jadi alasannya adalah produk tersebut berkurang utilitasnya seperti susu bau atau sayuran tidak segar, atau mampu juga sebab biaya angkutanyang diharapkan untuk mengangkutnya melebihi harga pasar produk tersebut.
Kompetisi Lahan Von Thunen
Kompetisi lahan dalam versi Von Thunen mampu dilihat pada gambar diatas. Pada titik awal yang bersahabat dengan pasar, profit sayuran sangat tinggi daripada produk yang lain sehingga para petani melaksanakan penanaman sayuran. Seiring dengan jarak, profit sayuran menurun drastis ketimbang gandum (wheat), sehingga pada lokasi tersebut petani menanamkan gandum dibandingkan sayuran. Semakin jauh dari pasar, kian turun pula nilai utilitas dari gandum, pada sebuah titik, keuntungan dari peternakan sapi (cattle) lebih tinggi dari pertanian gandim, sehingga pada lokasi tersebut, dikerjakan peternakan sapi.
Pola mirip ini disebabkan oleh ongkos angkutanyang meningkat baik secara eksponensial maupun secara wajar untuk beberapa produk tertentu. Pada teladan diatas, sayuran tidak dapat dibudidayakan jauh dari pasar alasannya adalah akan berkurang kesegarannya bila transportasinya terlalu lama, gandum pun begitu walaupun tidak separah sayuran, tetapi sapi dapat dibawa ke pasar dengan mudah untuk disembelih di pasar, sehingga jarak dari pasar tidak terlalu kuat. Ditambah lagi dengan kebutuhan lahan peternakan sapi yang lebih tinggi dibandingkan pertanian sayuran atau gandum, sehingga lebih menguntungkan memiliki lahan yang luas dan berbiaya sewa rendah.
Cincin Von Thunen
Berdasarkan alasan yang telah diterangkan diatas, model Von Thunen akan membuat cincin-cincin yang memberikan delineasi penggunaan lahan. Cincin ini menurut observasi Von Thunen sendiri.

Cincin-cincin tersebut dapat dilihat pada gambar disamping ini.
Titik Hitam memberikan lokasi pasar.
Putih memberikan lokasi pertanian market garden dan peternakan sapi perah.
Hijau menawarkan lokasi perhutanan dan industri perhutanan.
Kuning menunjukkan lokasi gandum dan perladangan.
Merah memperlihatkan industri peternakan ranching.
Hijau gelap menawarkan zona yang tidak mampu dijalankan agrikultur sebab mutu lahan rendah atau biaya transport terlalu tinggi.
Zonasi diatas dapat terbentuk karena adanya perbedaan ongkos transportasi dan ongkos utilitas dari produk-produk yang dipasarkan. Semakin jauh dari pasar maka biaya sewa tanah akan menyusut dan ongkos angkutanakan meningkat. Oleh sebab itu, produk yang berlokasi dekat dengan pasar yakni produk yang memiliki ongkos transport tinggi, sedangkan yang berlokasi jauh dari pasar yakni yang mempunyai biaya angkutanrendah. Contohnya yaitu industri hasil hutan yang berlokasi bersahabat dengan pasar karena volume dan berat kayu yang mempersulit transportasi.
Selain transportasi, terdapat pula faktor utiltias seperti yang telah diterangkan diatas. Apabila nilai kegunaan suatu barang berkurang seiring dengan waktu, produsen barang tersebut akan condong memilih lokasi yang bersahabat dengan pasar agar dapat menghemat waktu transportasi barang. Contohnya ialah pertanian sayuran dan peternakan sapi perah.
Modifikasi Teori Von Thunen

Terdapat pula modifikasi dari teori Von Thunen yang mengasumsikan adanya sungai yang mempermudah transportasi. Pada model ini mampu dilihat bahwa bikinan sayuran market gardening dan peternakan sapi perah dapat berlokasi jauh dari pasar asalkan erat dengan jalur transportasi sungai.
Model ini mengasumsikan bahwa sungai tersebut mampu digunakan untuk mempermudah angkutandengan mempergunakan kapal. Kapal ini pun mampu menenteng barang dari lokasi-lokasi yang jauh dari pasar, sehingga mereka mampu dengan gampang menjual produknya di pasar. Implikasi dari model ini ialah ongkos sewa yang meningkat drastis seiring jalur sungai.
Kritik
Kritik dari model sewa lahan Von Thunen yakni kriterianya yang terlalu sempit dan kaku. Terdapat beberapa variabel yang sebaiknya diperluas agar mampu mengakomodasi kondisi dunia kasatmata, variabel tersebut yaitu:
- Moda dan biaya angkutanyang berlainan-beda
- Variasi topografi
- Kesuburan lahan yang berlawanan-beda
- Pergerakan harga pasar sebuah komoditas
Meskipun demikian, model Von Thunen telah menerangkan dengan cukup terperinci aspek apa saja yang menghipnotis petani untuk memilih daerah tani dan produk taninya. Model ini pun memberi inspirasi Alonso untuk menciptakan model bid rent penggunaan lahannya yang kerap digunakan untuk memodelkan wilayah perkotaan.
Referensi
Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press
Sumber ty.com
Selasa, 27 Oktober 2020
Model Penggunaan Lahan Bid Rent
Setelah sebelumnya kita mempelajari mengenai versi penggunaan lahan Von Thunen, kali ini kita akan membahas tentang bid rent.
Bid rent yakni rancangan geografi ekonomi yang mendasari model von thunen. Pada perkembangannya, konsep ini dikembangkan lebih jauh oleh Alonso untuk menerangkan persebaran lokasi perjuangan di perkotaan.
Bid Rent yaitu model geografi ekonomi yang menjelaskan tentang ongkos sewa dan permintaan akan tanah yang berubah sesuai dengan jarak dari CBD.
Teori ini menyatakan bahwa pengguna tanah akan bersaing satu dengan yang lain untuk mendapatkan lokasi yang paling optimal untuk menunjang perjuangan mereka.
Semakin akrab dengan pusat kota, semakin tinggi penawaran sewa tanah mereka (bid rent)
Pada model ini, diasumsikan bahwa kian dekat dengan CBD maka akan ada bertambah banyak konsumen, dan semakin banyak konsumen akan menciptakan sebuah perjuangan kian untung.
Hasil dari model ini yang paling sempurna dijelaskan oleh model kota konsentrik milik Burgess.
Pada model bid-rent biasanya diasumsikan terdapat 3 agen utama yaitu retail, industri, dan perumahan.
Agrikultur juga dimasukkan tetapi biasanya tidak dibahas dengan detail karena umumnya bid-rent dari agrikultur jauh dibawah bid rent ketiga agen utama tadi.
Interaksi antara ketiga agen ini akan dijelaskan lebih lanjut di bab bid rent perusahaan dan bid rent perumahan.
Model Bid Rent Perusahaan

Diketahui bahwa harga tanah kian tinggi kian bersahabat dengan sentra kota, namun tidak semua perusahaan mengalami kenaikan profit yang signifikan bila berlokasi lebih erat dengan sentra kota.
Industri jasa dan retail kelas atas (boutique) akan mengalami kenaikan profit yang lebih tinggi kian bersahabat dengan sentra pasar.
Hal ini disebabkan oleh exposurenya yang lebih tinggi terhadap pelanggan dan central business district yang tergolong lebih aktif dan affluent, sehingga kesempatanadanya pembeli kian tinggi.
Dapat dilihat pada gambar disamping bahwa garis bid-rent retail cukup terjal, hal ini terjadi sebab distance decay yang dialaminya dipengaruhi oleh banyak sekali aspek.
Faktor utama yang menghipnotis usaha retail ialah aksesibilitas terhadap pelanggan, biaya transportasi yang harus dikeluarkan pelanggan, serta brand-image yang bagus jika berlokasi di sentra kota.
Semakin jauh dari pusat kota, komponen-bagian ini menurun dengan drastis sehingga garis bid rent yang ada cukup terjal.
Industri manufaktur cenderung tidak perlu berlokasi terlalu akrab dengan sentra pasar alasannya yang diperlukan ialah pekerja yang murah dan lahan yang cukup luas, tetapi industri juga perlu lokasi yang relative bersahabat dengan pasar untuk meminimalisir ongkos transportasi.
Oleh alasannya adalah itu, dalam model bid-rent, industri umumnya berlokasi pada bab tengah kota, sesudah retail dan sebelum hunian atau agrikultur.
Agrikultur cenderung memiliki bid-rent yang rendah alasannya profit yang dihasilkan berbanding dengan jumlah lahan yang digunakan tidak seberapa jikalau dibandingkan dengan industri ataupun retail.
Oleh alasannya adalah itu, lebih menguntungkan bagi agrikultur untuk berlokasi di pinggiran perkotaan yang mana harga tanahnya masih sangat murah dan masih tersisa banyak tanah kosong.
Distance decay yang dialami oleh agrikultur cuma dipengaruhi oleh transportasi, sehingga mampu dilihat bahwa grafiknya cukup landai.
Model Bid Rent Perumahan

Model bid rent perumahan dipisahkan menurut kelas penghasilan dari pemilik rumah, secara biasa terdapat tiga kalangan yaitu penghasilan rendah, sedang, dan tinggi.
Jika kepemilikan tanah hanya berdasarkan harga sewa, maka dapat ditentukan kalangan berpenghasilan tinggi akan mempunyai monopoli atas lahan.
Agar siapa saja dapat tinggal dalam kota tersebut, terbentuklah secara alami skala prioritas lokasi mirip yang ada pada grafik disamping.
Penduduk dengan penghasilan rendah memilih untuk tinggal erat dengan CBD atau kawasan kerja mereka alasannya adalah mereka tidak bisa mengeluarkan biaya pemanis untuk transportasi.
Merekapun memilih untuk tinggal di apartemen-apartemen dan tenement housing yang sempit di daerah sentra kota. Hal ini disinyalir oleh garis bid rent nya yang sangat terjal.
Golongan berpenghasilan tinggi condong memilih tinggal di luar kota alasannya adalah harga tanah yang relatif lebih murah memungkinkan mereka untuk membuat rumah yang besar.
Mereka pun mampu menanggung ongkos angkutanyang lebih mahal untuk pergi ke daerah kerja yang berada di sentra kota. Hal ini dibuktikan dengan garis bid-rent nya yang sungguh landai, menunjukkan bahwa mereka cukup indifferent kepada lokasi yang ada.
Faktor Transportasi

Terdapat pula model bid rent yang mana aksesibilitas ke dalam pusat kota menjadi sungguh penting, lebih penting daripada luas dan harga tanah yang lebih murah dari kawasan suburban.
Pada kota seperti ini, penduduk yang memiliki pendapatan tinggi akan condong pribadi menempati area disekitar CBD, diikuti oleh kelas menengah, dan kelas bawah.
Pada pinggiran kota, terdapat pula kelompok kelas atas yang telah tidak bekerja, mereka tidak lagi butuh transportasi yang cepat ke lokasi kerja, sehingga mampu menikmati hidup dan rumah yang besar di pinggir kota.
Kota yang direpresentasikan model seperti ini umumnya yakni kota yang memiliki kemacetan sangat tinggi seperti Bangkok dan Manila.
Faktor Lingkungan

Terdapat pula faktor lingkungan dalam memilih willingness to pay tiap-tiap kelas.
Umumnya, kawasan yang akrab dengan CBD mempunyai mutu lingkungan yang lebih jelek dikarenakan intensnya aktivitas manusia dan kurangnya ruang terbuka hijau.
Meskipun begitu, penduduk dengan pemasukan rendah tetap harus berada pada area sekitar sentra kota walaupun keadaan lingkungannya sangat buruk.
Hal ini disebabkan oleh tingginya ongkos transportasi, sedangkan masyarakatyang memiliki pemasukan sedang dan tinggi mampu dengan lebih bebas memilih lokasi yang akan mereka tempati, sebab mereka tidak terlampau terikat dengan biaya transportasi.
Pada grafik diatas, kawasan yang memiliki mutu lingkungan buruk disimbolkan dengan istilah brownfields.
Pada lokasi tersebut, tidak ada yang ingin membangun perumahan terkecuali kelas bawah yang mencari lokasi erat dengan sentra kota, tidak menghiraukan apakah lokasi tersebut bermutu tinggi atau rendah.
Referensi
McCann, P. (2013). Modern urban and regional economics. Oxford: Oxford University Press.
Waugh, David (2014). Geography an Integrated Approach, Fourth Edition. Oxford University Press
Sumber ty.com
Senin, 26 Oktober 2020
Teori Lokasi Industri: Weber Dan Moses
Kita sering mengajukan pertanyaan tanya mengapa sebuah perusahaan menentukan lokasi tertentu untuk mendirikan pabrik. Apakah karena lokasi tersebut lebih erat dengan pasar, apakah lebih akrab dengan sumberdaya, atau apakah karena aspek-aspek lain.
Dalam menentukan lokasi pabrik, perusahaan lazimnya menggunakan analisis cost-benefit. Kali ini, kita akan membicarakan dua teori penentuan lokasi industri, adalah Weber dan Moses.
Aktivitas ekonomi dan jumlah output suatu daerah bergantung pada aspek input yang tersedia pada wilayah tersebut. Sedangkan, kekayaan suatu wilayah dipengaruhi oleh laba yang diterima oleh faktor-aspek input tersebut.
Untuk mengetahui tampilan ekonomi sebuah daerah, wajib bagi kita untuk mengerti pula persebaran dan perkumpulan aspek input, serta neraca untung-ruginya. Data-data ini mampu diolah menjadi info produk domestik bruto sebuah tempat.
Input dari faktor buatan dibagi menjadi tiga ialah modal, lahan, dan tenaga kerja. Selain itu, dijumlah pula keuntungan (faktor pembayaran) yang diterima oleh aspek-faktor tersebut. Keberadaan dari aspek buatan menjadi penentu dari ada atau tidaknya suatu industri di area tertentu.
Jika terdapat banyak faktor produksi, maka lokasi tersebut akan condong mengalami aglomerasi, bila terdapat sedikit faktor bikinan, maka tidak akan ada industri.
Teori Lokasi Produksi Weber
Dalam teori Laundhart dan Weber, diasumsikan bahwa firma/perusahaan yakni sebuah titik dalam ruang dan perusahaan tersebut berupaya untuk mengoptimalkan keuntungan.
Oleh sebab itu, lokasi yang ditempati oleh perusahaan tersebut akan berkorelasi dengan lokasi yang memberikan potensi laba paling besar.
Dari grafik diatas, kita mampu berasumsi bahwa pada kondisi ideal ialah w(M) = w(S1) + w(S2), dan t(M) = t(S1) = t(S2). Lokasi P akan bergantung pada nilai minimum ongkos yang harus dikeluarkan untuk memindahkan input ke pabrik dan output ke pasar. Persamaan ini kalau disingkat, akan menjadi P = minimum ∑ (w,t,d)
Asumsi Model Weber
- Topografi yang homogen
- Biaya transportasi yang homogen
- Kualitas dan honor pekerja yang homogen
- Persaingan bebas dan perusahaan dapat memasarkan produk dalam jumlah tak terhingga
- Modal tersedia secara homogen
Efek Biaya Transportasi Input Terhadap Lokasi
Biaya transportasi input yang diperlukan oleh suatu perusahaan memiliki pengaruh yang besar kepada penempatan lokasi perusahaan. Semakin mahal ongkos transportasi yang dibutuhkan oleh suatu input, maka perusahaan akan cenderung menempati lokasi yang erat dengan sumber input tersebut.
Contoh dari efek ini yaitu industri mainan, industri tersebut membutuhkan 2 input utama adalah plastic (S1) dan besi (S2). Rasio produk yang dibutuhkan untuk membuat 1 mainan ialah 2 plastik : 1 besi, sehingga jika kita ingin memproduksi 3 ton mainan, diperlukan 2 ton plastic dan 1 ton besi.
Karena ongkos transportasi dijumlah menurut berat, maka biaya untuk memindahkan plastic ialah 2x lipat biaya untuk besi, sehingga perusahaan akan condong menempati lokasi yang dekat dengan sumber mirip gambar diatas yang dilambangkan dengan P hijau.
Jika kita mengatakan tentang pabrik baja yang memerlukan batubara (S1) dan besi (S2) pada rasio 3:1, maka kemungkinan besar P akan berlokasi di titik alternative yang berwarna merah.
Efek Biaya Transportasi Output Terhadap Lokasi
Biaya transportasi dari output juga mempunyai imbas yang besar kepada lokasi dari suatu perusahaan. Jika ongkos input mensugesti penempatan perusahaan relative terhadap salah satu sumber input, maka ongkos output mensugesti penempatan perusahaan relative kepada kedua sumber input dan pasar.
Contoh dari imbas ongkos transportasi yakni pada industri pengolahan mineral mirip pemurnian emas dan timah atau agrikultur seperti meubel dan pertanian. Industri ini biasanya berlokasi erat dengan sumber input sebab sukar untuk memindahkan materi input, disamping itu output yang dihasilkan umumnya lebih ringan kalau dibandingkan dengan inputnya. Industri ini lazimnya dicirikan dengan banyaknya produk buangan yang tidak terpakai, industri seperti ini diketahui sebagai weight losing industry.
Pada industri khusus seperti kimia berat ataupun kendaraan, kadang kala berat input lebih ringan daripada output sehingga biaya angkutaninput lebih rendah dari output. Oleh alasannya adalah itu, lebih murah untuk menempatkan pabrik dekat dengan pasar. Industri seperti ini dikenal selaku weight gaining industry.
Lain halnya dengan industri minuman ringan. Industri ini memerlukan air dalam jumlah besar, namun output yang dihasilkan juga mempunyai berat yang serupa. Oleh karena itu, industri ini disebut footloose atau bebas untuk berlokasi di sumber input ataupun di dekat pasar.
Efek Perubahan Biaya Faktor Lain Terhadap Lokasi
Selain biaya transportasi, terdapat pula aspek lain yang mampu menggeser lokasi optimum dari sebuah perusahaan, aspek tersebut yaitu harga tanah dan biaya tenaga kerja.
Pergeseran lokasi optimum tersebut mampu digambarkan dengan garis-garis isodapane, yaitu garis yang menghubungkan lokasi dengan ongkos transportasi yang serupa.
Semakin jauh sentra produksi bergerak dari titik optimum p, maka makin tidak efisien perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan biaya angkutanyang meningkat. Selain itu, perusahaan juga mengalami opportunity cost yang kian tinggi, karena semestinya modal mampu dipakai di sektor lain.
Agar sebuah perusahaan mau berpindah, maka penghematan dari aspek setempat seperti harga tanah dan tenaga kerja harus melebihi peningkatan ongkos transportasi tersebut.
Sebagai pola, perusahaan yang titik optimumnya berada pada p dianjurkan untuk berpindah ke titik L2, namun pengurangan faktor setempat pada lokasi tersebut cuma 15p. Sebaiknya perusahaan tersebut tidak berpindah ke titik L2.
Lain hal nya dengan perusahaan lain yang juga berlokasi di titik p, perusahaan tersebut direkomendasikan untuk berpindah ke titik L1, dengan perhitungan penghematan sejumlah 15p. Perusahaan tersebut seharusnya berpindah alasannya akan meminimalkan 5p per unit produk.
Penghematan ini berasal dari selisih antara kenaikan ongkos transportasi dan pengurangan aspek lokal.
Critical Isodapane ialah garis isodapan yang mendelineasi lokasi dimana peningkatan dari ongkos transport mempunyai nilai yang serupa atau lebih kecil dibandingkan dengan pengurangan dari faktor tanah dan tenaga kerja.
Konsep ini akan sangat berkhasiat bagi perusahaan yang ingin melakukan pembangunan pabrik padat-karya yang tidak terlampau bergantung terhadap sumberdaya input. Contohnya yakni manufaktur barang elektronika yang sekarang telah sebagian besar dipindahkan ke China atau negara Asia Timur. Padahal, sumber daya alamnya berasal dari Afrika dan sumberdaya modal serta idenya berasal dari Amerika Serikat.
Offshoring dan outsourcing merupakan aplikasi positif dari rancangan ongkos faktor-aspek lain terhadap penempatan lokasi sebuah sentra buatan dalam perusahaan.
Efek Sumber Input dan Pangsa Pasar Yang Baru
Perubahan lokasi optimum suatu perusahaan dari P menjadi L1 seperti yang sudah didiskusikan sebelumnya dapat menjadikan terjadinya substitusi sumber input maupun input itu sendiri.
Pada perkara ini, kita akan berpendapat bahwa terdapat sumber input pada titik kuning yang memiliki mutu serta kuantitas yang serupa dengan M1.
Ketika sebuah sumber input gres ditemukan, dengan mutu dan kuantitas yang serupa dengan sumber input terdahulu, mungkin saja dijalankan substitusi bila jaraknya lebih akrab (pada gambar diatas jelas bahwa jarak titik kuning ke L1 jauh lebih dekat daripada M1 ke L1).
Sekarang perusahaan tersebut memakai input dari M2 dan titik kuning, sehingga titik optimumnya pun berpindah dari L1 menjadi L2 atau titik merah.
Titik optimum yang bergeser ini menyebabkan pangsa pasar terdekat juga berganti, kini perusahaan tersebut lebih dekat dengan pasar titik hijau dibandingkan dengan C sehingga lebih menguntungkan untuk memasarkan output mereka di pasar titik hijau, tetapi perusahaan tersebut juga tetap dapat beroperasi di pasar C walaupun akan menjadi tidak efisien. Rugi atau tidaknya diputuskan oleh variabel ongkos angkutanyang harus dikeluarkan.
Berdasarkan grafik diatas, sebaiknya perusahaan terus berpindah memburu titik optimum, tetapi kenyataannya perusahaan jarang berpindah, hal ini disebabkan oleh tingginya ongkos relokasi dan administrative dalam membuka pabrik baru.
Teori Lokasi Produksi Moses
Pada teori lokasi Weber dan Laundhart, input M1 dan M2 yaitu konstan untuk setiap M3 yang dibuat (rasionya selalu tetap), namun untuk meraih efisiensi yang lebih tinggi, terkadang perusahaan mensubstitusikan suatu input dengan input yang lebih hemat biaya.
Moses menggunakan garis IJ supaya jarak terhadap pasar senantiasa konstan, sehingga yang menjadi variabel adalah rasio antar input. Pendekatan ini membuat sebuah Envelope Budget Constraint yang ialah fungsi biaya dari kedua input (m1 dan m2).
Isoquant adalah garis yang mendelineasi wilayah-wilayah yang memiliki jumlah output sama, oleh karena itu, titik optimum mampu dianggap selaku titik dimana garis isoquant menjamah garis envelope budget constraint.
Jika suatu ketika terjadi pembangunan infrastruktur angkutanpada wilayah input M1, biaya angkutansumberdaya M1 tentu saja akan menurun, hal tersebut dilambangkan pada grafik diatas yang memberikan fenomena perubahan biaya angkutanpada sumberdaya M1. Perubahan harga ini menimbulkan terjadinya perpindahan titik optimum yang tadinya berada di E* menjadi di E’. Dampak dari perubahan ini ialah jumlah input M1 meningkat dan input M2 berkurang.
Perbedaan Mendasar Model Moses dan Weber
Perbedaan utama dari model Moses dan Weber yakni pada versi Weber, variabel input yakni konstan alias tidak dapat diubah sedangkan pada versi Moses, variabel input dapat disubstitusi. Selain itu, pada versi Weber, rasio input A : input B konstan sedangkan pada model Moses, dapat bervariasi tergantung keperluan dan harga.
Contoh dari model Weber adalah industri kendaraan. Perusahaan kendaraan tidak mampu mengubah rasio komponen yang dipakai untuk suatu produk kecuali kalau mereka melakukan rilis model baru. Umumnya, industri yang terikat dengan versi Weber ialah industri yang serupa sekali tidak mampu mengganti rasio dari inputnya. Industri mirip ini meliputi perusahaan dengan versi produk baku atau dosis yang baku.
Contoh untuk versi Moses yakni tukang nasi goreng. Kita berpendapat bahwa input nasi goreng kambing yaitu nasi dan daging kambing, dengan perbandingan 2:1. Jika biaya kambing menjadi lebih mahal, rasio tersebut dapat bermetamorfosis 3:1, sedangkan bila harga nasi menjadi lebih mahal, rasio tersebut mampu menjelma 1:1.
Industri kudapan juga dapat dianggap selaku salah satu pola industri versi Moses, kita ambil pola biscuit. Jika kita amati dari tahun ke tahun, kandungan susu yang ada di biscuit makin menurun daripada gandum dan bahan yang lain.
Meskipun begitu, rasa dari biscuit tersebut tidak terlalu dipengaruhi dan hasil kesudahannya yakni tetap biscuit. Kandungan susu diturunkan karena harganya yang memang lebih mahal kalau ketimbang gandum dan bahan lainnya.
Contoh lain dari versi Moses ialah proyek pembuatan terowongan. Input yang dibutuhkan ialah tenaga manusia dan tenaga mesin untuk bor. Jika pada lokasi tersebut tidak memungkinkan untuk menjinjing mesin, maka ketua proyek akan memperbanyak input tenaga manusia dan menghemat mesin. Jika tidak memungkinkan untuk adanya insan dalam jumlah banyak, maka ketua proyek akan memperbanyak input mesin dan menghemat insan.
Peningkatan Produktivitas dalam model Moses
Jika terdapat pergeseran pada produktivitas atau output yang dilambangkan dengan pergantian isoquant dan envelope anggaran constraint, titik optimum yang dilambangkan dengan A, B, C juga akan berganti sesuai dengan fungsi produksinya. Jika kurva tersebut condong kebawah mirip grafik diatas, maka dapat dipastikan bahwa titik optimum akan bergerak menuju m2, sedangkan jika kurva condong ke atas, maka titik optimum akan condong bergerak menuju m1.
Referensi
RELOCE (Regional and Local Economics) Lecture 4a Industrial Location, University of Portsmouth
Modern Urban and Regional Economics, McCann, Phillips
Geography an Integrated Approach, Waugh, David
Advanced Geography Concept and Cases, Guiness, Paul, Nagle, Garret
Sumber ty.com
Minggu, 25 Oktober 2020
Aglomerasi Ekonomi
Kita sering mendengar perumpamaan aglomerasi dipakai saat mendiskusikan perihal penempatan lokasi industri, investasi modal, dan juga pengembangan daerah. Namun, apa sih bergotong-royong aglomerasi? Apakah gambaran yang ada di anggapan kita sudah benar tentang aglomerasi?
Apa itu Aglomerasi?
Aglomerasi yakni berkumpulnya industri atau acara dalam suatu kawasan tertentu. Kegiatan-kegiatan komersial, industri, serta jasa lazimnya berkumpul di satu lokasi tertentu yang memiliki banyak laba intrinsik. Hasil eksklusif dari fenomena ini ialah meningkatnya jumlah investasi pada lokasi tersebut. Contoh dari aglomerasi yaitu ekonomi-khusus/”>tempat ekonomi khusus.
Karena jumlah tanah terbatas sedangkan jumlah perusahaan yang ingin masuk tidak terbatas, harga tanah pun akan meningkat, sehingga semua perusahaan akan mengalami keuntungan yang lebih rendah. Harga tanah yang tinggi akan secara tidak eksklusif memajukan ongkos hidup dari pekerja yang tinggal di wilayah itu, sehingga honor minimum pun harus dinaikkan agar tidak terjadi migrasi pekerja. Selain itu, permintaan yang tinggi untuk pekerja yang dibarengi dengan kekurangan jumlah pekerja akan mengembangkan undangan honor dari pekerja tersebut.
Agar suatu klaster mampu tetap bertahan, harus terdapat keuntungan bagi perusahaan untuk bertempat di lokasi tersebut ketimbang daerah lainnya. Dalam kasus aglomerasi, jumlah perusahaan yang banyak dalam suatu klaster akan mengembangkan efisiensi produksi dari setiap perusahaan. Jika keuntungan ini hilang, maka perusahaan akan melaksanakan relokasi, sehingga terjadilah dispersi.
Faktor Ekonomi Aglomerasi
Knowledge spillover
Knowledge Spillover mempunyai makna gampangnya pertukaran berita antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dikarenakan dekatnya proksimitas perusahaan tersebut. Dalam knowledge spillover ini, terdapat tacit knowledge yang berarti isu sepenggal tentang kondisi kasatmata. Informasi ini dapat menolong karyawan dan pemimpin perusahaan untuk memahami keadaan pasar secara lebih menyeluruh, utamanya mengenai pergerakan pasar dan penemuan baru. Oleh alasannya adalah itu, tacit knowledge dapat memajukan daya saing sebuah perusahaan di pasar.
Contoh dari knowledge spillovers ini ialah pada klaster finansial seperti Wall Street, Marunouchi, atau London. Pada sektor finansial, informasi pasar sangatlah dinamis dan dapat berubah setiap waktu, oleh alasannya itu petinggi perusahaan mesti mampu menciptakan keputusan dengan taktis dan cepat. Keputusan ini lazimnya mesti didahului dengan negosiasi, oleh karena itu akan lebih gampang jikalau semua perusahaan bertempat di sebuah lokasi yang sama.
Non traded inputs
Jika beberapa perusahaan terletak bersahabat satu dengan yang lainnya, maka terdapat input tertentu yang dapat disediakan dengan lebih efektif. Input ini disebut sebagai non traded inputs. Input ini mampu berupa jasa ataupun infrastruktur yang mampu menunjang operasional sebuah perusahaan.
Contoh dari non traded inputs adalah jaringan infrastruktur fiber optic internet cepat yang terdapat pada distrik finansial di London, firma hukum dan audit yang terdapat di Wall Street, serta perusahaan penyuplaispare-parts di kota-kota otomotif mirip Detroit, Stuttgart, dan Munich.
Local skilled labour pool
Ketika suatu perusahaan ingin melaksanakan perluasan ataupun pengembangan perjuangan, perusahaan tersebut akan membutuhkan tenaga kerja professional dalam jumlah banyak dengan spesialisasi. Mendapatkan tenaga kerja yang bermutu dalam jumlah banyak tidaklah gampang, oleh karena itu pekerja menjadi salah satu constraint sebuah perusahaan dalam melakukan pengembangan atau ekspansi. Aglomerasi merupakan salah satu tanggapan dari constraint tersebut.
Ketika suatu kawasan menjadi populer akan karakteristik kerja tertentu, maka tempat tersebut akan mempesona pekerja-pekerja professional pada bidang yang bersangkutan. Contoh dari fenomena ini adalah Wall Street, Marunouchi, dan London untuk industri finansial, serta Sillicon Valley untuk industri teknologi berita. Ketika pekerja profesional pada bidang tersebut berdatangan, maka mutu pekerja akan berkembangsecara perlahan. Kualitas yang tinggi dari pekerja lokal ini turut berkontribusi meningkatkan produktivitas dan inovasi dari lokasi aglomerasi.
Tipe Ekonomi Aglomerasi
Internal Returns to Scale
Ketika banyak terjadi investasi di suatu tempat yang cuma dimiliki oleh satu perusahaan, maka hal tersebut mampu dikategorikan sebagai internal returns to scale. Investasi yang besar pada suatu lokasi akan mendorong adanya pertumbuhan ekonomi yang besar pula pada lokasi tersebut. Contoh dari internal returns to scale adalah hangar Boeing Everett di Seattle, pabrik mobil Fiat di Turin, dan kompleks pertambangan Freeport di Tembagapura.
Economies of Localization
Economies of localization nyaris sama sifatnya dengan internal returns to scale, hanya saja pada masalah ini, banyak perusahaan yang terlibat, tetapi masih berada dalam satu sektor. Contoh paling terang dari economies of localization yakni aglomerasi industri otomotif di Detroit, Stuttgart, dan Nagoya, atau aglomerasi industri finansial di London, New York, dan Wall Street, serta industri teknologi berita di Sillicon Valley.
Economies of localization menunjang pertumbuhan perusahaan-perusahaan yang berlokasi di lokasi tersebut dengan cara mengaplikasikan 3 faktor ekonomi aglomerasi diatas.
Economies of Urbanization
Economies of urbanization sama sifatnya dengan kedua aglomerasi diatas, namun bedanya adalah perusahaan yang terlibat bersifat lintas sektor. Pada kota-kota yang disebutkan diatas, mirip Detroit, Stuttgart, dan Nagoya, ekonomi kota tersebut bergantung pada satu sektor yaitu otomotif, dengan banyak sekali perusahaan di dalamnya yang bergerak pada sektor terkait. Lain halnya dengan economies of urbanization, pada kasus ini semua perusaahaan baik yang lintas sektor maupun yang serupa berlokasi di tempat tersebut.
Contoh dari aglomerasi ini yakni ibukota negara-negara meningkat seperti Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, dan Manila. Banyak sekali industri yang berlokasi di kota tersebut, tidak hanya terbatas pada satu atau dua sektor saja.
Teori Klaster Industri
Model Growth Pole
Ketika sebuah aglomerasi perusahaan yang besar menentukan kebijakan, maka perusahaan lain yang terikat melalui relasi customer-supplier akan terkena dampaknya. Ketika suatu perusahaan atau instansi memberikan investasi yang besar terhadap suatu tempat atau sebuah klaster industri, maka akan terjadi imbas konkret mirip pembangunan infrastruktur dan juga mempesona perusahaan-perusahaan yang lain.
Dalam growth pole, terdapat spread yakni dampak faktual, dan backwash ialah pengaruh negative, tetapi diasumsukan bahwa spread selalu lebih besar dibandingkan backwash. Kelemahan dari teori ini ialah tidak adanya framework analisis cost-benefit yang menjustifikasi feasibility dari investasi ini.
Model Incubator
Model incubator menyatakan bahwa kian banyak sektor perusahaan yang ada dan semakin beragam ukuran perusahaan yang ada, kian manis pula klaster itu untuk menunjang inkubasi perusahaan-perusahaan kecil. Hal ini mampu terjadi karena keberadaaan perusahaan kecil yang beragam dapat menyediakan jasa-jasa yang diharapkan oleh perusahaan startup untuk meningkat . Jika sebuah klaster dipenuhi oleh perusahaan besar, maka perusahaan tersebut akan cenderung memakai internal returns to scale sehingga perusahaan-perusahaan startup tidak mampu memanfaatkan jasa-jasa mereka.
Contoh dari versi incubator ini adalah pada kota Pittsburgh dan New York, Pittsburgh merupakan kota yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di sektor tertentu seperti besi, baja, dan batubara, sedangkan New York merupakan kota yang dipenuhi oleh perusahaan dari berbagai ukuran dan sektor.
Model Product Cycle
Model production cycle menyatakan bahwa perusahaan cenderung meletakkan pabrik/kantor tergantung dengan life cycle produk mereka. Semakin awal life cycle nya maka perusahaan akan cenderung berlokasi di tempat aglomerasi, sedangkan kian final life cycle nya maka perusahaan tersebut akan cenderung berlokasi di daerah perifer. Hal ini terjadi alasannya adalah kian permulaan life cycle produk tersebut, makin absurd dan tinggi ilmu yang dibutuhkan untuk merancang dan menyebarkan produk tersebut, sedangkan kian tamat dari life cycle produk tersebut, maka kian terperinci apa best practice dari produk tersebut dan strategi produksi serta distribusinya.
Model Porter
Porter berfokus pada konsep competitiveness dibandingkan profitability. Competitiveness meliputi seluruh proses buatan dan distribusi, tidak hanya apakah menciptakan untung atau tidak. Dengan adanya klaster, Porter berargumen bahwa perusahaan mampu mengembangkan laju pertukaran isu serta komunikasi, sehingga kesudahannya mampu meningkatkan inovasi.
Terdapat 3 aspek fundamental penemuan, yaitu kebaruan, perbaikan, dan pengurangan risiko. Perusahaan akan terdorong untuk memajukan inovasi agar mampu mencapai posisi monopoli terhadap kompetitornya, hal ini mampu diwujudkan dalam taktik branding, pembuatan produk gres, atau perbaikan produk usang.
Model New Industrial Areas
Model new industrial area mencakup aglomerasi industri seperti silicon valley, Cambridge cluster, dan Emilia Romagna manufacturing cluster. Menurut pengamatan, klaster ini berdasar pada versi jaringan sosial, sebab terdiri dari perushaan yang ukurannya berlainan namun satu sektor. Umumnya perusahaan di klaster ini bersifat kooperatif dan tidak bersaing satu dengan yang lainnya.
Jenis Firma, Klaster, dan Bentuk Transaksi
| Karakteristik | Aglomerasi Murni | Kompleks Industri | Jaringan Sosial |
| Ukuran perusahaan | Atomistic (kecil) | Terdapat beberapa perusahaan besar | Berbagai ukuran |
| Karakteristik Hubungan | Tidak teridentifikasi Terpecah Tidak stabil | Dapat diidentifikasi Stabil | Kepercayaan Loyalitas Lobbying Joint-Venture Non oportunis |
| Akses keanggotaan | Terbuka Sistem sewa Lokasi | Tertutup Investasi internal Lokasi | Semi-terbuka Pengalaman & Sejarah Lokasi tidak cukup |
| Dampak spasial | Kenaikan harga tanah | Tidak mempunyai efek | Kapitalisasi harga tanah |
| Lokasi spasial | Urban | Lokal non-urban | Lokal non-urban |
| Contoh klaster | Perkotaan | Pabrik kimia atau baja | Area industri gres, Sillicon Valley |
| Pendekatan Analitis | Aglomerasi murni | Teori produksi lokal Teori input-output | Teori Jaringan Sosial (Granovetter) |
Klaster Manusia: Kreativitas dan Konsumsi Perkotaan
Selain klaster industri, terdapat pula teori-teori baru yang mencoba menerangkan mengenai klaster manusia, pada teori ini, klaster insan menjadi faktor penting dalam menunjang kemajuan kawasan.
Pada teori ini, dipaparkan bahwa manusia yang beragam dan berpendidikan akan cenderung memiliki creative drive yang lebih tinggi sehingga condong lebih kreatif, mempunyai jiwa entrepreneur, dan juga mempunyai skill yang mumpuni untuk berbagi suatu tempat.
Contoh dari teori ini adalah pada kala golden age Belanda pada kala 17, peraturan negara yang toleran mendorong influx migrasi dari golongan termarginalisasi mirip yahudi, Huguenots, katolik, serta protestan yang kabur dari intoleransi negara asalnya, kelompok-kalangan ini pun turut menolong berinovasi serta membangun Belanda, sehingga mereka pada kala tersebut mampu menjadi kekuatan besar di Benua Eropa dan colonial, hingga dapat mengimbangi Inggris dan merchant marine nya.
Keterbatasan Informasi Perusahaan
Teori-teori yang sudah dibahas pada postingan ini ini mengandalkan perkiraan bahwa perusahaan bertindak secara rasional dan juga mempunyai info lengkap perihal pasar, namun hal ini tidak senantiasa terjadi. Karena kurangnya informasi ini, tidak semua perusahaan akan bergerak untuk mengoptimalkan keuntungan, mereka dapat pula
bergerak untuk meningkatkan pangsa pasarnya, melaksanakan kompetisi dengan perusahaan competitor, serta mengoptimalkan efisiensi produksi. Fenomena ini dapat diterangkan oleh grafik dibawah ini.
Pada grafik diatas, kita mampu melihat dua garis ialah TC yang melambangkan biaya total, dan TR yang melambangkan pendapatan total, jikalau TR berada diatas TC, maka perusahaan mengalami laba. Sumbu x melambangkan posisi spasial suatu perusahaan, sedangkan sumbu y melambangkan nominal duit pendapatan serta pengeluaran sebuah perusahaan.
Pada titik a,b,c,d,e,f perusahaan mengalami TC yang serupa dengan TR sehingga dia tidak mendapat keuntungan. Pada titik P, perusahaan mengalami keuntungan paling besar alasannya adalah selisih ongkos dan pendapatannya paling tinggi. Pada titik S perusahaan mengalami pendapatan yang sungguh besar, tetapi ongkos yang dikeluarkan juga besar, sehingga keuntungannya tidak terlalu tinggi. Pada titik C, perusahaan mengalami laba karena dapat meminimalkan ongkos yang dikeluarkan, namun pemasukan dari produk juga menurun, sehingga laba tidak terlalu besar.
Dari grafik diatas, mampu disimpulkan bahwa perusahaan memilih lokasi tidak secara rasional dan dengan gosip penuh. Jika mereka mempunyai info sarat , maka tidak akan ada perusahaan yang memilih a,b,c,d,e,f sebab tidak menguntungkan, disamping itu perusahaan juga akan condong berlokasi di P yang mana keuntungannya paling tinggi. Dapat diasumsikan bahwa perusahaan yang tidak memilih lokasi secara rasional dipengaruhi oleh kurangnya info yang ada, aspek sentimen/irrasional, dan faktor ketersediaan lahan/modal pada lokasi tertentu.
Jenis Lingkungan Persaingan
Terdapat 2 jenis lingkungan menurut Alchian, yaitu lingkungan adoptif dan lingkungan adaptif. Teori lingkungan adaptif menyatakan bahwa tidak semua perusahaan mempunyai informasi sama mengenai pasar, terdapat beberapa perusahaan, utamanya perusahaan besar, yang dapat melaksanakan information gathering yang lebih dibandingkan kompetitornya, sehingga mereka diuntungkan.
Teori lingkungan adoptif menyatakan bahwa semua perusahaan setara dan tidak memiliki laba apapun serta berita apapun mengenai pasar, oleh alasannya itu, terjadi kompetisi tepat disini, secara statistika, potensi tiap perusahaan untuk gagal atau sukses adalah sama.
Dalam kehidupan nyata, teori lingkungan adaptif lebih sering terjadi daripada lingkungan adoptif. Nyatanya, banyak perusahaan-perusahaan besar yang dapat mengambil dan memanfaatkan informasi secara lebih efisien dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan ini memanfaatkan big data untuk memformulasikan kebijakan pasar serta produknya agar mampu mengungguli kompetitor.
Konsep ini juga berlaku dalam klaster. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, dalam aglomerasi terdapat aspek knowledge spillover, aspek ini membantu perusahaan-perusahaan yang berlokasi pada daerah tersebut untuk menggali gosip lebih dalam tentang pasar dan memeriksa kemauan konsumen. Informasi ini didasarkan oleh input yang diterima perusahaan tersebut maupun knowledge spillover dari perusahaan lain. Sehingga, jikalau dilihat dari sudut pandang lingkungan Alchian, aglomerasi menguntungkan perusahaan karena terjadinya lingkungan adaptif.
Referensi
Modern Urban and Regional Economics, McCann, Phillips
Sumber ty.com








